Minggu, 26 Januari 2014

Ramuan Roh Bintang

Disclaimer by Hiro Mashima
Ramuan Roh Bintang
By Kaktus Hijau
.
.
.
Setelah kejadian lucy manusia transparan, Virgo memperbaiki ramuannya di dunia roh bintang. Semuanya orang di guild yang tidak sengaja tersiram ramuan itu juga telah kembali setelah lucy menulis nama mereka masing-masing untuk terus diingatnya. Kamar lucy pun kembali dipenuhi barang-barangnya yang sempat menghilang.
"Hari ini hampir saja aku dianggap mati oleh semua orang." Keluhnya sambil masuk dalam bak mandi.
Virgo yang tiba-tiba muncul sambil membawa banyak botol ramuan. Dia membawakan ramuan penghalus kulit yang sudah diperbaiki sehingga lucy tidak takut lagi kulitnya berubah transparan, tapi botol-botol lainnya berisi ramuan tambahan hadiah dari virgo untuknya. Ramuan sakit perut, ramuan penghangat tubuh, ramuan cinta, ramuan diare, dan ramuan perangsang. Virgo meletakan begitu saja di meja rias Lucy tanpa bilang apapun lagi dan kembali ke dunia roh bintang. Lucy yang baru saja selesai mandi kaget melihat banyak botol berada di meja riasnya.
"Astaga untuk apa ini semua?" Lucy membaca satu persatu nama ramuan itu, menurutnya ada beberapa yang berguna dan satu yang berlebihan. Ramuan perangsang, "Ini untuk siapa?" keluh lucy memandang dirinya di cermin, "Aku sudah cukup merangsang kok." Kalimat itu cukup membuat cerminnya retak.
Lucy meletakan lagi botol itu semula dan pergi berpakaian. Hari ini ia akan tidur seperti bayi mengingat setiap hari selalu ada kejadian menyenangkan di guild Fairy Tail. Setelah ia dan kawan-kawannya mati suri selama tujuh tahun kamarnya tidak ada yang berubah sama sekali dan selalu bersih namun baunya berubah menjadi bau nenek itu. Pantas saja Natsu dan Happy engan mampir kemari. Lucy mematikan lampunya dan bersiap tidur di bawah selimutnya yang hangat.
"Yo, Lucy…" sudah bukan hal aneh lagi Natsu yang tiba-tiba masuk dari jendela, hampir dia pikir Natsu tidak akan kemari lagi karena kamarnya sudah bau nenek-nenek, "kamarmu bau." Ya itu yang baru saja dia pikirkan.
"Kau masih kurang beradab Natsu," Lucy yang kesal berdiri dan menyalakan kembali lampunya, "setidaknya masuk melalui pintu dan ketuk dulu, bagaimana kalau aku sedang berganti baju?!" Natsu tampak sendiri tanpa Happy.
"Lewat jendela lebih cepat daripada lewat pintu lagipula aku tahu saat kau ganti baju karena bau semakin menguat karena tidak tertutup baju seperti kemarin saat kau transparan." tinju Lucy langsung mengenai pipi kiri Natsu.
"Mana Happy?" tanya Lucy yang tidak biasa melihat Natsu sendirian tanpa Happy.
"Dia sakit perut di gulid." jawab Natsu sambil mengunyah persedian roti Lucy.
"Aku punya obat untuknya." Lucy memberikan ramuan dari Virgo pada Natsu, "cepat berikan padanya dan jangn datang kemari lagi aku ingin tidur."
"Ah, baiklah… terimakasih Lucy." Natsu langsung melompat dari jendela.
"Akhirnya benar-benar bebas."
.
.
.
Malam itu juga Happy langsung sembuh dari sakit perutnya, ramuan yang diberikan Lucy benar-benar manjur. Mereka berdua kembali melanjutkan makan mereka secara rakus menghabiskan uang yang mereka dapat kemarin. Makan mereka sempat tertunda karena Happy sakit perut setelah semuanya selesai giliran Natsu yang sakit perut karena kekenyangan.
"Kenapa tidak minta obatnya lagi pada Lucy?" dengan itu Happy terbang kerumah Lucy dan mencuri salah satu botol ramuan miliknya dan kembali ke guild memberikan ramuan itu pada Natsu.
Setelah menengguk itu sekaligus Natsu malah langsung jatuh pingsang di guild, Mira-san yang masih melihat mereka mengijinkan mereka menginap disana. Pagi-paginya Lucy datang dengan langkah yang dihentakan keras-keras kearah guild. Salah satu botol ramuannya hilang dan itu adalah ramuan cinta. Belum ada siapa-siapa disana sepagi ini hanya ada Natsu yang tertidur sambil duduk di meja bar dan Happy sebelahnya.
"Natsu!" teriak Lucy membangunkan dragon slayer itu.
"Ada apa Lucy?" Natsu bangun dan menyapanya dengan nada yang mencurigakan.
"Kau meminum ramuan cinta itu?" Lucy mundur selangkah tanpa sengaja kakinya menyentuh botol ramuan yang sepertinya terjatuh dari meja. 'Ramuan Cinta – Akan mencintai Lucy-hime selamanya –Virgo'. Lucy menelan ludah menbacanya, "Kenapa kau meminumnya?"
Lucy menguncang-guncang pundak Natsu kesal. Natsu sebagai salah satu penyihir dragon slayer dengan mudah menangkis tangan Lucy dan menatapnya lekat. Lucy merasa aneh dengan suasana guild yang sepi ditambah Natsu yang meminum ramuan cinta aneh dari Virgo. Cengkraman tangan Natsu begitu kuat sehingga terasa sakit di lengan Lucy. Natsu mendekatkan wajahnya semakin dekat dan dekat lagi.
"Pag– HAH!" Jeritan Happy membuat Lucy selamat dari malapetaka aneh di pagi hari itu, "Ap– apa yang akan kalian lakuan tadi?"
"Happy." Natsu langsung membekap mulut Natsu dengan wajah yang bersemu merah.
"Natsu, jawab aku?!" Lucy kembali teringat tujuan datang sepagi ini ke guild.
"Tidak." Jawab Natsu seingatnya ia meminum ramuan sakit perut seperti Happy kemarin.
Lucy bingung dengan semua ini, dia yakin Natsu meminum ramuan itu sampai pemuda kekanak-kanakan ini bertindak seberani tadi. Lucy duduk di sebelah Natsu dan membuang napas keras-keras, ia harus temukan penawarnya.
"Terbukalah pintu gerbang Virgo!"
"Ya, Lucy-hime?" sesosok wanita cantik dengan pandangan lurus dengan pakaian maid dan rantai pada lengannya muncul dari kepulan asap merah muda, dia membungkuk 90 derajat.
"Kau tahu kapan efek ramuan cinta yang kau buat itu berakhir?" tanya Lucy tanpa basa-basi sambil berharap tulisan yang tertera di botol itu salah.
"Ramuan itu akan bertahan selamanya."
"Bagaimana ini? Bisakah kau membuatkan penawarnya." Virgo menganguk mengiyakan, "Yeay! Cepat buat itu, kapan ramuan penawar itu jadi?"
"Aku perlu membuatnya seharian penuh di dunia roh bintang." jawab Virgo tetap memandang lurus.
"Oh begitu, baiklah."
"Tapi ada perbedaan waktu antara dunia roh bintang dengan dunia ini, satu hari dunia roh bintang sama saja dengan tiga bulan disini." Lucy memutih mendengar informasi tersebut, selama itu ia akan sedikit kesusahan dalam menjalankan misi sedangkan Natsu, dia dan Happy adalah satu tim.
"Lucy…" Natsu memeluk lehernya dari belakang yang membuat Lucy semakin putih.
"Nat –Natsu?" Happy juga ikut meutih seperti Lucy melihat apa yang dilakuakan Natsu.
"Mungkin ada ramuan penawar yang akan mengurangi rasa cinta Natsu pada Lucy-hime, itu akan jadi besok."
"Aku setuju buatkan aku ramuan itu." Lucy bersemangat walaupun masih berada dalam pelukan Natsu.
.
.
.
Siang harinya Lucy tidak ke guild lagi dan Natsu juga ikut ke kamarnya dengan Happy. Natsu selalu menarik-narik Lucy agar terus menepel dengannya sedangkan Happy sibuk menghabiskan semua makanan di lemarinya.
"Happy jadi kau pikir ramuan yang kau berikan pada Natsu itu ramuan sakit perut seperti ramuan yang aku berikan pada Natsu?" Lucy bertanya pada Happy di atas pangkuan Natsu yang terus memeluknya tidak mau lepas.
"Iya, kukira semua ramuan yang ada di mejamu itu ramuan sakit perut."
"Sebenarnya aku sedikit beruntung kau mengambil ramuan cinta untuknya," Lucy melirik kearah meja riasnya sedangkan Happy bersemu mendengar penyataan Lucy tadi, "setidaknya dia tidak meminum ramuan perangsang itu." Happy menoleh dengan wajah yang makin memerah, 'Ramuan Perangsang – Akan selalu terangsang jika didekat Lucy-hime –Virgo'.
"Benar juga." Happy mengangguk mengiyakan, ia sulit membayangkan bagaimana Natsu dan Lucy nanti karena posisi mesra seperti ini pun sungguh tidak pernah terbayang untuk seorang Natsu.
Karena Natsu sulit untuk melepaskan Lucy jadilah Happy yang menyiapkan makanan dan minuman untuk makan siang. Lucy masih berusaha melepaskan diri dari pelukan Natsu yang sepertinya menganggap itu adalah bercanda. Natsu terus berupaya memeluk kembali Lucy yang sudah terlepas sambil tertawa geli memandang Lucy yang tampak lucu dan cantik dalam matanya. Happy hanya bisa mendesah melihat pemandangan aneh ini, paling tidak ini tidak terjadi setiap hari.
"Lucy, Natsu…" panggil Happy yang sudah selesai makan ia menghabiskan banyak ikan dan menyisakan beberapa untuk Lucy dan Natsu yang pasti lelah setelah kejar-kejaran seperti itu, "aku akan ke guild saja." merasa tidak ada gunanya dan mengganggu Happy terbang ke guild melalui jendela. Sepertinya melewati mereka sangat menghiraukan keberadaannya, pikir Happy sedih.
Lucy yang akhirnya lepas berkali-kali dari pelukan Natsu yang terus menerus menangkapnya lagi melompat ke atas tempat tidur karena terpojok. Natsu juga ikut melompat dengan wajah yang selalu gembira dan tatapan mata tang sepertinya kabur. Brak! Lucy dan Natsu tenggelam dalam kasur yang empuk dan selimut yang menutupi mereka.
"ASTAGA!" Lucy menoleh kearah pintu mendapati Erza, Gray dan Juvia dengan wajah yang bersemu. Pakaian Lucy yang tidak berlengan dan hanya melingkupi tubuhnya saja dari balik selimut terlihat seperti tidak memakai baju membuat semua berpikiran liar ditambah Natsu berada diatasnya sambil memeluknya.
"Kalian sedang apa?" tanya Erza dengan bayangan hitam rambutnya menutupi sebagian atas wajahnya.
"Er –Erza… ini bukan seperti itu." Lucy semakin di salah mengertikan oleh semuanya karena Natsu yang tidak mau menyingkir sehingga ia tidak bisa memperlihatkan bajunya yang asih lengkap.
"Juvia tidak menyangka kalian punya hubungan seperti ini." Ungkap Juvia malu sambil bersebunyi dipunggung Gray.
"Kalian tidak datang ke guild sampai sesiang ini karena kalian sedang…" geram Gray yang matanya tertutup bayangan hitam rambutnya sama seperti Erza.
"Kalian salah paham!" Lucy mencoba mendorong-dorong dada Natsu tapi juga tetap tidak bisa, "Natsu menyingkirlah!" bukan malah menyingkir kini Natsu berseringai khasnya dengan mata yang tertutup bayangan hitam rambutnya juga, "Kenapa kalian seperti ini!" teriak Lucy frustasi.
Dalam hitungan sepersekian detik Natsu mendaratkan bibirnya di bibir Lucy yang membuat semua mata membulat sempurna. Erza, Gray dan Juvia memundurkan satu langkah karena Natsu mencium Lucy dengan tidak main-main. Lucy merasakan sensasi menyenangkan dari bibirnya keseluruh tubuh, tapi dengan cepat ia berhasil mendapatkan kembali akal sehatnya dan mendorong Natsu kemudian melompat kelua dari selimut.
"Aku akan jelaskan semuanya, lihat aku masih memakai pakaianku." Ungkap Lucy panik melihat ketiga rekannya itu memutih.
"Natsu dan Lucy berciuman…" Juvia masih memutih melihat kejadian tadi dan tiba-tiba kembali berwarna dengan mata yang berapi-api, "Juvia juga harus melakukannya dengan Gray-sama." mendengar itu Gray tersadar dan melompat dari jendela menghindari Juvia yang seperti kerasukan mencoba untuk menciumnya.
"Erza, Natsu begini karena dia tanpa sengaja meminum ramuan cinta punya ku."
Erza masih memutih sambil menggumamkan anam Jellal dan tiba-tiba menangis di pojok ruangan. Sekarang giliran Lucy yang bingung dengan ketiga tingkah rekannya. Natsu meniup telinga kanan Lucy membuyarkan kebingungannya, Lucy menoleh galak mendapati Natsu yang tersenyumlebar padanya.
"Kau tahu lusa sudah tidak akan seperti ini lagi dan tiga bulan yang akan datang benar-benar akan kembali seperti semula." Lucy menyentuh pipi kiri Natsu lembut Natsupun menyambut tangan itu dan mengosokan pipinya merasakan tangan lembut Lucy.
"Kalian jangan melupakan aku." Erza sudah berdiri disamping mereka bedua.
.
Erza sudah dapat menerima kelakuan Natsu yang terus menempel pada Lucy, dia sudah mengetahui semua ceritanya tentang Natsu yang tanpa sengaja meminum ramuan cinta dari Virgo. Tanpa niat menolong Lucy dari masalah kecil menurutnya itu, Erza pamit dan kembali ke guild.
"Natsu, bisakah aku duduk sendiri di kursiku?" pinta Lucy lembut berharap Natsu melepaskannya.
"Baikalah." Jawab Natsu sedikit tidak senang.
"Kau ingin makan apa? Biar kubuatkan?" tanya Lucy yang sudah berdiri disamping Natsu baru saja terlepas dari pelukannya.
"Buatkan saja yang kau suka aku pasti memakannya." senbenarnya Lucy senang Natsu berkata seperti itu karena bahan makanan yang menipis setelah dirampok oleh Happy tadi pagi.
"Baiklah tunggu sebentar."
.
.
.
Guild Faify Tail
Semuanya heboh mendengan cerita Gray dan Juvia tentang posisi Lucy dan Natsu saat mereka temukan dikamar Lucy. Happy sedang diluar bersama Wendy dan Charle sedangkan Erza entah kemana sehingga gosip yang menyebar adalah Natsu akan segera menikah dengan Lucy.
"Apa Lucy akan Hamil?
"Seperti apa anak mereka nanti?"
"Aku ingin menjadi pendamping Natsu-nii" kata Romeo
"Kalau aku ingin menjadi pendamping Lucy." Asuka dengan polosnya berkata sambil menarik-narik kumis Master Makarov.
"Perhatian!" suara Master Makarov membahana di seluruh aula guild, "Ayo kita berpesta untuk Natsu yang akhirnya akan menikah!" kalimat itu langsung disambut sorak sorai seluruh guils sambil mengacungkan gelas bir mereka, "Sungguh tidak ku sangka anak itu akhirnya mengenal wanita juga." desah master Makarov pada Mira-san.
BRAK
Erza datang dengan Wendy, Charle dan Happy yang terheran dengan pesta di sore hari tanpa tahu perayaan apa. Mereka disambut semua orang yang menawarkan minuman pada mereka, bahkan saking mabuknya Wendy pun ditawari bir oleh salah satu anggota guild.
"Master ada apa ini?" Erza menggebrak meja bar karena kesal sulit sekali berjalan menuju bar karena orang-orang berpesta terlalu berlebihan.
"Akhirnya Natsu menemukan sebagian hidupnya." kata Master Makarov sambil menengguk birnya dengan wajah yang memerah.
"Apa Maksudmu?" Erza khawatir ada kesalah pahaman disini.
"Lucy dan Natsu akan segera menikah."
BENAR! Pikir Erza, pasti pasangan bodoh itu yang menyebarkan gosip ini. Matanya melirik tajam ke arah Juvia dan Gray. Orang yang maksud merasakan bulu kuduk mereka berdiri.
.
.
.
Natsu yang kelelahan akhirnya tertidur juga di tempat tidur Lucy, sebenarnya Lucy merasa kasihan juga karena bukan sepenuhnya salah Natsu dia tidak sengaja meminum ramuan itu. Lucy memperbaiki posisi tidurnya dan menyelimutinya dengan selimut.
"Kalau begini aku tidur dimana?" Lucy tidak rela kalau dia tidur di sofa.
"Disini saja." Natsu menarik Lucy masuk dalam selimut dan memeluknya erat.
"Kau! Kau belum tidur!" Lucy malu kalau tadi ia menyelimuti Natsu dan memperbaiki posisi tidurnya dengan lembut.
"Hehehe…." Ia memamerkan giginya yang runcing dengan tetap menutup mata, "bau Lucy sangat menyenagkan." Setelah berkata begitu dengkuran teratur detdengar dari dirinya.
"Secepat itukah ia tidur?"
.
.
.
"Lucy-hime," Virgo memang selalu tepat waktu karena saat menyuruhnya membuatkan penawar itu adalah pagi-pagi sekali, "ini ramuan pengurang rasa cinya Natsu." Lucy bangun dan menerimanya setelah itu Virgo kembali pergi untuk membuat ramua penghilangnya efek ramuan sebelumnya.
"Pagi Lucy." Natsu mengucek matanya.
"Natsu," paling tidak ia akan berhenti memeluknya terus setelah meminum ramuan ini, "Minumlah ini." Ada ra enggan dalam dirinya membiarkan Natsu meminum ramuan itu.
Natsu langsung menenguknya dengan senang hati, setelah tetes terakhir wajah Natsu langsung memerah melihat Lucy dan dirinya berada dalam satu kasur.
"Lu-lucy sebaiknya aku mandi dulu." Natsu langsung berlari ke kamar mandi sedangkan Lucy terkekeh geli melihat Natsu yang malu-malu seperti itu.
"Haah… baiklah ini jauh lebih baik aku akan membuat sarapan dulu."
Suara air yang keluar dari shower dan dentangan alat masak Lucy membuat rumahnya terasa lebih ramai dari biasanya. Natsu keluar dari kamar mandi dengan lebih segar, ia merasa tenggorokannya kering karena setelah bangun tidur belum meminum air setetes pun. Matanya sempat melihat beberapa botol indah yang berisi air berwarna-warni didalamnya. Seringainya kembali terlihat mengingat tenggorokannya yang kering.
PRANG
Lucy menjatuhkan piringnya mengetahui apa yang Natsu minum.
"TIDAAAAAAAAAAAK!"
'Ramuan Perangsang – Akan selalu terangsang jika didekat Lucy-hime –Virgo'.
END

Di Balik Sinar, Bab 4


Rio tidak menyangka Dinda akan membangunkannya secepat itu, dia marah dengan memelototi Dinda karena merasa kurang tidur. Dinda menggedigkan bahu dan menunjukan jam berapa sekarang. Jam 10. Hanya itu yang Rio lihat, tidak tahu kapan itu. Karena tidak ada sinar matahari yang masuk waktu menjadi kabur, jam tidurnya pun  menjadi tidak jelas. Sebelum tidur Rio ingat jam 11, jadi dalam pikiran panjang yang terjadi dalam kejapan mata Rio menyimpulkan ini jam 10 pagi.
“Aku kira kau mati.” kata Dinda dengan cueknya mengangkat sebagian kaosnya keatas.
“Apa yang kamu lakukan!” otomatis Rio langsung berbalik badan.
“Ada sedikit luka saat kita melompat dari mobil kemarin.” Dinda menempelkan kapas yang sudah dibalut kain kassa dengan plester disekitar pinggangnya.
“Tapi bisakah tidak didepanku?!” Rio masih membalik badan dengan kesal.
Dinda menepuk bahu Rio agar berbalik, “Memang kenapa?” tanya Dinda.
“Apa kau tidak diajari perbedaan tentang laki-laki dan perempuan?!” Rio benar-benar sudah gila menyetujui pelarian dengan gadis aneh itu.
“Ya, tentu saja.” Dinda berdiri memperlihatkan tubuhnya yang sebenarnya biasa saja kalau dilihat dari sudut mata anak laki-laki seperti Rio, “Kau punya jakun aku tidak.” Dinda menunjukan tenggorokannya, “Aku punya–”
“Oke hentikan, ini bukan pelajaran biologi.” Rio langsung memotong karena tahu kemana alur Dinda akan menunjukan bagian tubuhnya.
Dinda pergi dengan menggeleng-gelengkan kepala seolah memaklumi kelakuaan aneh Rio. Rio memijat pangkal hidungnya. Sampai kapan ia akan lari dengan Dinda, sedangkan baru sehari saja dia sudah merasa menjadi orang aneh. Dinda muncul lagi membawa makanan kaleng yang sudah dibuka.
“Makanlah.” Tanpa disuruh pun Rio pasti akan memakannya, “Kita akan keluar setelah ini. Aku sudah membereskan semuanya.”
Rio menelan makannya dengan susah payah, “Aku belum membereskan barangku.”
“Sudah ku bereskan juga.”
“Ap-apa?! Hei jangan sentuh barang orang sembarangan.” Rio berlari memeriksa ranselnya, “Kenapa kau keluarkan semua barang-barangku?” Rio merasa gila menghadapi Dinda yang semakin aneh.
“Kau membawa barang yang tidak berguna.” Jawab Dinda sambil menyuapkan sisa makanannya.
“Apanya yang tidak berguna itu semua bajuku!”
.
.
.
Rio tidak merasa yakin dengan dia berada didepan Dinda menyusuri lorong bawah tanah mencoba keluar dari persembunyian mereka. Penjelasan Dinda belum sepenuhnya selesai, Rio tetap bertanya-tanya kalau dia adalah percobaan pertama yang dihiraukan kenapa justru mereka yang dikejar.
Rio tetap berjalan dengan perasaan sebal mendengar suara dari balik punggungnya. Dinda terus-terusan mengunyah perbekalan mereka. Awalnya gadis itu bilang hanya membuka satu kaleng tapi pada akhirnya tas perbekalan mereka yang dibawa oleh Rio menjadi ringan. Pagi tadi Dinda mengeluarkan semua baju miliknya agar bisa membawa makanan lebih banyak.
Rio berbalik mendapati Dinda yang makan sambil berjalan dengan jarak yang sedikit jauh darinya. Mulutnya belepotan cokelat dan saus. Rio merinding melihat gaya makan Dinda yang apapun dimasukan kedalam mulutnya.
“Apa rasanya cokelat dengan saus?” tanya Rio melupakan rasa sebalnya dengan rasa penasaran.
“Tentu saja tidak enak.”
Rio menyesal telah bertanya dan berbalik badan lagi, ada tiga persimpangan yang terbuat dari dinding tanah dilapisi batu-batuan. Rio yang berada didepan maka dialah yang memutuskan, dia mulai mengambil jalan lurus. Seketika lehernya merasa tercekik, rupanya Dinda menarik Rio dari belakang.
“Apa?!” bentak Rio kesal.
“Kau salah jalan.” Dinda menunjukan arah kanan.
“Kalau begitu kamu didepan!”
“Nanti aku enggak bisa makan.” jawab Dinda dengan bahasa tubuh yang mempersilakan Rio jalan duluan, “Be gentle, Rio.” Rio membalas dengan tatapan membunuh.
Lorong itu bergetar diiringi suara gemuruh yang menakutkan. Rio menarik Dinda berlari secepat mungkin. Entahlah ia tidak bisa berpikir jernih tapi perasaanya berkata dia tahu jalannya dan akhirnya mereka sampai depan pintu dengan sangat cepat. Dia tidak menyangka akan sampai dengan bantuan insting bukan pikiran. Dinda sambil ikut terengah. Ternyata dia mausia juga, pikir Rio. Mereka menempelkan telinga pada papan pintu yang letaknya diatas kepala, seperti tutup peti.
“Kenapa ada getaran dan suara gemuruh?” tanya Rio bingung.
“Mereka menemukan letak rumah itu dan meledakannya dari atas sana.” Dinda mengambil botol minum dan menengguknya.
“Bagaimana ini? Jika kita keluar kita bisa tertangkap, mereka pasti ada di tempat mereka meledakan mobil kemarin.
“Tentu saja kita lari.” Jawab Dinda enteng.
“Kau pasti sudah tahu teori tidak mudah dilakukan, teman.” Rio kesal dengan nada enteng Dinda, seolah itu mudah.
“Kita lari masuk kedalam labirin lain.” kini Dinda yang bernada sebal seolah berhadapan dengan orang bodoh.
“Hei, santai kawan. Aku kan tidak tahu kalau ada labirin lain.” protes Rio.
“Kita lari masuk kedalam hutan, sekitar 200 meter kearah barat di bawah pohon akasia. Disitu ada pintu lain.”
“Baiklah dalam hitungan 3.” Rio menarik napas dalam-dalam bersiap membuka pintu, “1-2-3”
Mereka langsung menghambur keluar dan mendapati banyak lubang bekas ledakan-ledakan sekitar situ ternyata mereka beusaha meruntuhkan lorong bawah tanah yang mereka lewati tadi. Dinda langsung menarik tanggan Rio agar mengikutinya. Mereka berlari tanpa berpikir, bahkan Rio tidak sanggup memikirkan sekarang yang sedang terjadi.
Rio kaget saat Dinda mendadak berhenti. Matanya kini memfokuskan kedepan mereka, lubang-lubang yang sama seperti tempat mereka tadi. Disana berdiri om Yoga sambil menenteng senapan berburu, mulutnya disumpal cerutu seperti biasa.
“Rio keponakanku sayang.” Teriaknya melepaskan cerutu dari bibirnya.
Tanpa aba-aba Dinda menodongkan pisau kearah leher Rio, “Jangan mendekat, dasar pengkhianat!”
Rio kaget ada sebilah pisau menempel dikulit pelapis nadinya. Dia hendak protes tapi kembali menelan kata-katanya karena teriakan Dinda yang penuh emosi. Sebuah pikiran lewat untuk melepaskan hidupnya ditangan Dinda, toh dia seorang yatim-piatu dan tidak punya teman selain orang yang menodongnya sekarang.
“Silahkan saja, Dinda sayang.” kata om Yoga tenang sambil menghisap cerutunya lagi, “Dia tidak berguna lagi bagiku, asalkan kamu kembali pada om, om adalah wali sah kamu. Kamu tidak perlu bersusah payah menipu pasangan mandul itu.” mendengar kata-kat itu Rio ingin menangis meraung-raung, selama ini om Yoga yang penyayang yang selalu memperhatikannya adalah seorang brengsek pengkhianat. Om Yoga selalu tahu apa yang diinginkannya, tapi kini topengnya terbuka dengan jelas.
“Aku akan ikut om kalau om kembalikan ayahku!” Rio kaget mendengarnya, bukannya Dinda bilang dia juga yatim-piatu.
“Jangan mengujiku Dinda.” Om Yoga menggeleng-gelengkan kepalanya, “Aku ini tidak bisa berbohong kalau ayahmu masih hidup.” Rio merasakan tangan Dinda bergetar menggenggam pisaunya.
“Kalau begitu lepaskan Rio.”

Selasa, 21 Januari 2014

Di Balik Sinar, Bab 3


Dinda mulai mengambil tempatnya diatas karpet yang hangat, udara di sekeliling mereka memang tipis mengingat mereka berada di bawah tanah. Rio masih berpikir apa yang ada diatas kepala mereka karena jalan menuju kamari saja seperti sebuah labirin yang terbuat dari dinding kayu.
“Kau dan aku sama-sama yatim-piatu.” Dinda memulainya dari penjelasan yang absurd bagi Rio, tapi dia sama sekali tidak ingin menyela cerita yang akan dipaparkan Dinda karena sudah begitu penasaran.
.
.
.
“Mereka mengambil sempelnya dan mengujicobakan-nya pada manusia.” Dinda melihat ayahnya yang menelepon dengan panik. Mata hitam pria itu begitu nyalang dan tampak khawatir kemudian memandang Dinda yang ikut panik melihat ayahnya seperti itu.
“Aku akan segera pergi.” suara diseberang sambungan tampak menanyakan kemana ia akan pergi, “Aku akan keluar kota hari ini juga mungkin sekitar dua jam lagi. Baiklah sampai jumpa, aku akan menghubungimu lagi.”
Dinda tampak bingung dengan ayahnya yang bilang akan keluar kota dalam waktu dua jam, tapi nyatanya ia sedang menumpahkan minyak diseluruh penjuru rumah dan menyalakan korek api yang jelas akan membakar rumah mereka. Kemudian ayahnya langsung membawa Dinda masuk kedalam mobil, pria itu menyetir sembarangan menuju  sebuah jalan curam berjurang. Ia menurunkan Dinda dan membiarkan mobilnya menyala.
Ayahnya mendekatkan mobil ke tepi jurang yang pagar pembatasnya sudah dirusak akibat mereka tabrak. Dinda benar-benar takut tadi saat ayahnya menyetir dengan sembarangan sampai menabrak pagar pembatas. Tapi justru hal yang dilakukan ayahnya lebih membuatnya bingung. Pria itu mendorong mobilnya masuk kedalam jurang. Dan mulai berlari dengan kaki mereka sendiri.
Ayahnya membawa ketepi hutan dan membuka pintu bawah tanah labirin yang nantinya akan menjadi rumah mereka.’ Dinda sudah terlalu banyak diam melihat tingkah ayahnya. Gadis itu mulai gerah dengan ajunya yang berlapis-lapis untuk daerah tropis dan sarung tangan yang terus melekat sebelum ayahnya mulai menelepon tadi.
“Kau bisa membuka bajumu.” Kata ayahnya mulai tenang, “Semua itu untuk baju ganti kita selama tinggal di sini.” Pria itu juga melepas sarung tangannya.
Dia melambaikan sarung tangannya pada Dinda, “Ini untuk menghilangkan jejak kita.” Kemudian dia melepas baju-bajunya,”Ini untuk kita, jadi tidak usah membawa ransel ataupun koper.” Ayahnya sedang mengajari Dinda untuk melarikan diri. Dinda sadar kini hidupnya tidak dapat terus tenang.
“Kenapa kita seperti ini?” Dinda melepas rangkap terakhir bajunya, “Apa berhubungan dengan obat yang ayah suntikan padaku kemarin?”
Ayahnya terlihat sedih dan terpukul, “Ya,” ia hampir berteriak kekita mengucapkan kata itu,  ia seperti sedang bergumam sendiri.
Dinda mulai menyadari perbedaan diri muali saat itu, dia dapat mengetahui apa yang sedang terjadi di kota baik itu secara global maupun mendetail. Dinda memanfaatkan hal itu untuk mencari makanan di sekitar hutan dan akhirnya menemukan gua dibalik air terjun. Rumahnya sudah di buat sedemikian rupa dengan listrik yang sudah tersambung jauh dan rahasia. Hanya saja manusia tetap membutuhkan air dan makanan, jadi mereka banyak menyetok makanan kaleng yang diantar oleh kurir dari desa sebelah dengan sangat rahasia. Kurir itu adalah sahabat kecil ayahnya dulu.
Ayahnya menbuat saluran air kerumahnya dari air terjun itu. Pria itu semakin terlihat linglung dan membeberka semua rahasianya pada Dinda yang masih anak-anak saat itu. Kinerja otak Dinda semakin meningkat drastis ia bahkan mengetahui semua berita tanpa membaca Koran ataupun menonton tv.
Satu rahasia lagi yang diungkapkan ayahnya, bahwa serum itu di ujicobakan ke empat anak lainnya. Anak-anak itu memiliki keriteria khusus. Mereka yatim-piatu dan memiliki kecerdasan yang cukup dan daya tahan tubuh yang terkuat. Rio adalah salah satu dari delapan anak itu.
.
.
.
“Aku?” Tanya Rio menyadari Dinda tidak main-main, sebuah lelucon yang sangat serius jika itu sebuah lelucon. Mereka sudah sangat jauh dari kota kalau memang ini hanya lelucon.
“Ya, orang yan ditelepon ayahku lah pengkhianatnya. Dia mencari kami dan dapati mobil ayah berada di dalam jurang tanpa penumpangnya. Aku sering memperhatikan rumahmu dan orang itu sering datang mengaku sebagai sanak keluargamu.” Dinda menyesap sedikit udara dari mulutnya, “Om Yoga.”
Rio terperanggah, om Yoga adalah orang paling baik yang pernah ia kenal. Rasanya ia ingin sekali membantah semua kata-kata Dinda saat ini. Tapi ada sosok dalam dirinya yang berkata semua itu benar, bahkan sosok itu meyakinkan dirinya untuk percaya pada Dinda.
“Ayah dan ibuku? Lalu ayah dan ibumu yang datang waktu pendaftaran sekolah.” Rio mempertanyakan semuanya yang ia bingungkan.
“Om Yoga yang membuat ilusi tentang ayah dan ibumu. Kau pasti tidak memiliki kenangan dengan ayah dan ibumu sebelum umur delapan tahun?” Dinda melirik pada Rio dan tersenyum manis.
“Ya, memang.” Rio diceritakan ibunya kalau dia jatuh dengan luka kepala yang parah.
“Aku juga melakukan hal itu pada pasangan Subagio, mereka tidak memiliki anak dan tiba-tiba mereka merasa memiliki anak yang umurnya sudah 14 tahun. Sebuah manipulasi ingatan yang ku lakukan selama setahun penuh. Aku dulu berpura-pura menjadi anak lugu yang tinggal di panti asuhan untuk mendekati pasangan itu sebelum mereka pindah ke depan rumahmu. Setelah ibu percaya aku mulai menghasut ayah dan akhirnya mereka memiliki ingatan kalau mereka memiliki anak kandung, begitu juga kamu.”
“Dalam usia itu kau sudah bisa melakukan seperti itu.” Desis Rio terdengar takut dan takjub sekaligus.
“Kau adalah percobaan serum pertama yang masih banyak kurangnya, sehingga mereka tidak melirikmu kecuali om Yoga yang selalu mengawasi perkembanganmu. Mereka menganggap hanya kemajuan dan intelektual saja yang kau bisa kau tidak dapat bergerak dengan gesit.
Aku khawatir pada anak yang keempat, sepertinya mereka menanamkan doktrin yang salah yang menguntungkan bagi mereka sendiri.”
“Siapa mereka?” Rio meluruskan kakinya yang mulai terasa kesemutan.
“I Group, mereka perusahaan besar yang bekerja dalam banyak bidang.” Rio terperanggah mendengar hal itu, lebih kaget lagi Rio tahu siapa yang memiliki I Group.
Dinda berdiri mengambil beberapa biskuit dan membawanya kehadapan mereka. Dinda mengunyah dengan ringan tanpa peduli Rio yang masih terkejut mendengar semua cerita yang benar-benar terdengar seperti film. Tapi entah kenapa Rio benar-benar percaya dengan semua perkataan Dinda yang jika di dengar dengan berpikir jernih benar-benar ngawur.
Rio berusaha mengerti mata Dinda yang menatap lurus pada matanya walaupun tatapan itu penuh percaya diri kalau dia benar tetap Rio menangkap suatu rahasia yag belum diceritakan. Entahlah dia tidak bisa menjelaskan pada pikirannya sendiri tentang satu rahasia Dinda yang tidak terungkapkan. Rio berpikir tidak hanya empat anak seperti yang dikatakan Dinda, bahkan Dinda sendiri sepertinya memiliki hal yang sama seperti Rio. Jika Dinda berkata dia hanya unggul intelegensi tapi ada selubung baru yang terbuka setelah mengetahui ada manipulasi antara dia dan orang tuanya.
“Kau mengira aku sama seperti anak-anak percobaan yang lain.” tanpa dosa Dinda mengatakan secara tidak langsung mengatakan Rio adalah anak percobaan.
Rio menghela napas sebal mengerti arti kata Dinda, “Ayahku tidak pernah tega menyuntikan apapun pada anaknya sendiri apalagi hasil penelitiannya.” Dinda mengigit lagi biskutinya.
“Lalu kenapa kau sangat aneh.” tanya Rio tidak canggung-canggung lagi.
“Aku tidak aneh kalianlah yang aneh.” Dinda benar-benar percaya diri.
“Baiklah selamat tidur.” balas Rio sebal sambil menjatuhkan diri diatas karpet .

Kamis, 21 November 2013

Di Balik Sinar, Bab 2

Dering bel akhir pelajar mulai bernyanyi lagi. Rio langsung membereskan buku-bukunya dan tidak lupa membawa kotak makan Dinda, sepertinya dia harus mencucinya dulu . Rio terus saja menunduk menghindari tatapan orang-orang yang penasaran bagaimana perasaannya karena Dinda diskors akibat dirinya. Rio sampai bingung apa lagi yang harus ia masukan dalam tasnya sedangkan teman-teman sekelasnya belum semuanya pulang.
“Rio!”  seru Keysa geram karena Rio seolah sengaja pura-pura tidak melihatnya yang daritadi sudah berdiri di depan meja dia dan Dinda, “Aku mau kasih tau kamu hal lain.”
Mau tak mau Rio langsung mengangkat kepalanya penasaran, “Apa?” ada sirine yang berbunyi dalam kepalanya.
“Habis kita selesai dari toilet aku liat Dinda aneh, dia –dia menyeramkan. Matanya kelihatan jahat, yang aku takutin sekarang justru Nova. Aku udah lama tertarik dengan kepribadian Dinda, dalam pengamatanku dia bukan orang yang suka main-main walaupun nada bicaranya terdengar main-main.” Keysa berdiri menatap mata Rio lekat-lekat agar Rio mau percaya padanya.
“Aku tau kok soal itu.” kata Rio dengan santai menggendong tasnya, “Aku juga penasaran sama dia.”
“Kalau kamu mau ke rumahnya aku ikut.” kata Keysa benar-benar serius, dia punya banyak alasan begitu mengkhawatirkan Dinda.
“Aku –aku naik motor.” Rio benar-benar bingung karena motornya seperti motor balap yang kursi belakangnya lebih tinggi, itu akan membuat Keysa ketakutan. Lagipula motor seperti itu tidak enak dibawa pelan.
“Aku bawa mobil.” katanya spontan seolah takut Rio akan meninggalkannya.
“Baiklah.” Rio mengalah, tadinya ia akan pulang dulu menyuci kotak bekal Dinda.
Ponsel Rio bergetar beberapa kali menandakan masuknya SMS. Dia langsung membukanya membiarkan Keysa pergi duluan karena di sekolah tidak ada parker mobil jadi mungkin dia memarkirnya agak jauh.
Pulanglah kerumah. Jangan sampai Keysa ikut. Lakukan diam-diam.
-Dinda
Rio sedikit heran tapi ia mengurungkan niatnya untuk bertanya. Ia langsung pergi ke tempat parkir dan menyalakan motornya. Rio langsung pulang dengan kecepatan yang meliak-liauk melewati kendaraan lainnya. Mugkin saja dia bisa kena tilang apalagi dia belum memiliki SIM.
Sampai di depan gerbang rumahnya yang cukup besar ponselnya terus-terusan bergetar dengan nama Keysa tertera di layarnya. Rio merasa risih dan mematikannya. Ia mencopot baterainya dengan kasar.
“Rio!” panggil Dinda dari arah rumah seberang yang gerbangnya tidak kalah tinggi. Memang di situ adalah kawasan perumahan yang cukup mewah.
Rio bingung mendapati Dinda ada disana sambil melambai-lambaikan tangannya. Rio segera menyebrangi jalan komplek, “Darimana kamu tahu rumahku?” Tanya Rio benar-benar bingung.
“Kitakan tetangga…” jawab Dinda dengan senang. Pakaiannya sudah berganti dengan t-shirt dan celana jeans yang santai. Di balik gerbangnya ada mobil sedan yang sedang menyala, “cepat kemasi baju-baju kamu dalam waktu satu jam atau kalau tidak kita tertangkap.” Dinda tiba-tiba berubah serius, “Cepatlah!”
Rio benar-benar bingung sampai akhirnya ia tidak bisa berkutik dengan perintah Dinda, ia mengemasi beberapa baju santai dan pakaian dalam tentunya. Ia juga membawa dompet dan seluruh bangungannya dalam bentuk tunai. Walaupun pikirannya kacau, Rio masih dapat membaca arti dari kalimat Dinda bahwa mereka akan kabur dari rumah.
Satu jam berikutnya mereka sudah ada di jalan entah dimana dengan Dinda yang menyetir dengan sedikit kaku, “Apa kau sudah lama bisa menyetir?” Tanya Rio ragu.
“Belum,” jawab Dinda sambil menelan ludahnya  karena ada mobil yang menyalipnya dari kanan, “baru kali ini aku menyetir mobil.”
Rio langsung tersedak, menyuruhnya meminggirkan mobil mereka. Dia langsung menggantikan posisi Dinda sebagai supir. Rio benar-benar berkeringat karena hampir saja mereka mengalami kecelakaan lalulintas kalau Dinda tetap terus menyetir.
.
.
.
Awan menjadi gelap seketika, titik-titik hujan mulai turun semakin deras. Seorang pria separuh baya dengan kumis dan janggut tipis duduk di pelataran rumah sambil memperhatikan tamn rumahnya yang tersiram air hujan.
“Kau pikir bisa melarikan diri dari ku, tikus kecil?” ia menghembuskan asap rokoknya, kini tatapannya beralih pada orang yang senantiasa berdiri di belakangnya dengn tegap, “Lacak mereka! Aku harus menghukum dulu seekor tikus bodoh yang tidak hati-hati.”
Keysa meringkuk dekat pintu masuk. Ia mencicit ketakutan, memandangi pria itu yang semakin mendekat. Ia mengusap halus wajah halus Keysa dengan rokoknya, tentu saja gadis itu ingin menjerit sejadinya. Ada rasa panas bercampur perih di pipi kirinya, ia hanya mampu menggeram sakit pria yang daritadi berdiri tegap seolah memberi ancaman lewat tatapan matanya ‘kalau menjerit kau pasti merasakan yang lebih dari ini’. Keysa besujud memohon ampun. Taman rumah itu seolah berfungsi sebagai tirai dari jalanan sepi komplek perumahan elit itu.
.
.
.
“Kita mau kemana?” Rio sebal walaupun dia yang mengemudi tapi tetaplah Dinda yang menyetirnya, gadis itu terus-terusan memberi instruksi yang tak jelas kadang mereka hanya berputar-putar dan bahkan nyaris keluar kota.
“Menghabiskan bahan bakar.” Kata Dinda asal ia sibuk menghadap kebelakang membehani tasnya dan menariknya kedepan.
“Kenapa dibawa kesini? Sempit.” keluh Rio yang menerima tas ranselnya di kaitan oleh Dinda. Seperti anak sekolah yang baru pertama masuk, ia memakai tasnya dengan bantuan Dinda.
“Belok kanan!” perintah Dinda tanpa melihat jalan.
Sebuah gerbang usang menjulang tinggi. Tempat yang berantakan dengan sampah drum-drum bekas minyak mentah. Rio terlalu bingung untuk bertanya ini dimana. Dinda membuang barang-barang mereka keluar jendela.
“Hei!” protes Rio karena tasnya dilempar begitu saja.
“Jangan hentikan mobil dan lompat!” setelah berkata begitu Dinda langsung lompat sambil bertertiak cepat.
Rio yang sadar akan menabrak tumpukan drum yang masih berisi minyak langsung melompat mengikuti saran Dinda. Ledakan tidak terhindarkan setelahnya. ‘Apa aku sedang bermain film action?’ batin Rio nyaris Gila.
Dari belakang terdengar suara jeritan dan tepuk tangan dengan gembira. Dinda sedang meyoraki kepulan asap dari mobilnya dan drum-drum itu seperti melihat kembang api.
“APA KAU GILA?!” Rio benar-benar tidak tahan dengan tingkah Dinda.
Dinda tidak menjawab justru melemparkan salah satu tasnya pada Rio yang begitu berat. Dia berlari lagi sambil menarik Rio. Tas Dinda terlihat begitu kecil dibandingkan tas-tas yang dibawa Rio. Mereka sampai di tepi hutan sekitar situ. Dinda melepaskan gandengannya dengan Rio dan mendekati salah satu pohon. Dinda berjongkok membersihkan sedikit dedaunan disekitar kakinya. Tiba-tiba dia seperti mengangkat sebuah papan, Rio segera mendekatinya dan melihat ada ruang bawah tanah yang gelap dibawah kakinya.
“Masuklah…” kata Dinda seperti mempersilahkan tamu masuk kedalam rumahnya.
“Ap –Apa ini?” Rio kehabisan kata untuk menunjukan kbingungannya pada gadis yang selalu tersenyum manis itu.
“Akan ku jelaskan di dalam.”
Setelah mereka masuk ternyata ruangan itu berbentuk sempit dan memanjang. Dinda terus berjalan menyorotkan cahaya senternya. Rio salah mereka belum sampai dimanapun itu, ternyata pintu tadi hanya sebuah pintu masuk dalam sebuah labirin yang membingungkan baginya. Dinda dengan percaya diri terus berjalan sampai pada sebuah pintu kayu lagi.
Mereka masuk menggambarkan sebuah ruangan kayu yang lembab dan berdebu tebal, ruangan itu berinterior klasik dengan ukiran-ukiran pada dinding kayunya.
“Kalau tidak salah ada sekitar 4 penyedot debu disini.” Kata Dinda sambil berusaha membuka salah satu dinding kayu yang ternyata adalah sebuah lemari tersembunyi.
Dinda menyalakan sambungan listrik agar ada cahaya yang cukup dan mampu menyalakan penyedot debu itu.
“Kau mau menjelaskan sesuatu?” Tanya Rio yang sudah begitu penasaran.
“Belum, setelah kita membereskan ini semua.” Dinda menyerahkan salah satu penyedot debu pada Rio.
“Listrik ini dari mana?”
“Itu masuk salah satu penjelasan nanti.” Jawab Dinda mulai membersikan.
Setelah dibersihkan dan dipel ruangan itu terlihat seperti sebuah rumah kayu yang nyaman. Potongan-potongan kayu yang dipernis indah dan perabotan yang memang benar-benar sebagai menunjang kehidupan. Rumah yang sungguh sulit dicapai. Terdapat sofa dan kasur yang bungkus dengan plastic yang dihisap udaranya agar tidak berjamur. Benar-benar ditata untuk melarikan diri.
“Silahkan makan.” Dinda sudah menyajikan makanan kaleng di piring kaleng, membuat Rio ingin kembali lagi dan makan masakan bi Inah.
“Dinda, kamu belum bercerita apapun.” Kini Rio menuntut, ia sudah benar-benar nyaris gila hari ini.
“Baiklah…” Dinda meletakan sendoknya dan menegapkan badannya, “Aku sudah tidak memiliki ayah dan ibu lagi begitu juga kau.” Rio hendak membantah karena ia masih melihat ayah dan ibunya tadi pagi sebelum berangkat kesekolah.
“Makanlah dulu kamu perlu tenaga untuk mendengarkan ini.” Dinda mulai menyuap lagi makanan kalengnya yang terasa lebih enak sekarang.
Bagi Rio Dinda menjadi menakutkan ketika tidak tersenyum. Dia menuruti perintahnya dengan diam.